MERAMU MIMPI IBU
Karya : Budianto
Selalu, Hampir setiap malam
Saat purnama menyongsong sepi
Suara itu kembali membingkai
Dibalik bilik rumah kami
Derainya menuntun rindu
Alunan nada terdengar memadu
Seperti malam-malam yang lalu
Merasuk kedalam sukma menabur
Air mata
Sesaat akupun bangkit dari rebahku
Dengan seksama meraup melodi itu
Meratap dalam kesendirian
Saat lantunan ayat-ayat
Meulai menggiringku ke tempat
Yang paling sudud diantara
Keramaian pikiranku
Ibu mulai berdoa
Mengarap iba dari ilahi
Sepasang matanya memejam mimpi
Memangku cita tuk naik haji
Mimpimu telah kurekam ibu
Kini doamu tak lagi sendiri
Karna akan ada doa-doa baru
Yang mengantarkan dan menemu
Cita-citamu ibu
Ibu..
Yakinlah pada-Nya
Sebab keyakinan itu yang akan
Menjadi jembatan dalam mimpimu.
Kamis, 12 Agustus 2010
Selasa, 10 Agustus 2010
PUISI TENTANG KOTA
KOTAK-KATIK KOTA
Karya : Budianto
Terlihat kota yang bukan kotaku
telah dikotak-katik oleh banyak
otak-otak yang barang kali tak berotak
mencoba mengkotak-katikkan kotamu bukan kotaku
ya.barang kali juga dia yang merasa berotak
telah tahu atau hanya ingin membodoh-bodohi
orang yang malas memakai otaknya untuk membangun kota itu
kota yang hanya terbungkus dalam suatu kotak
tak berkotak menjadi lahan untuk melakukan
perbuatan yang tak berotak
Tak...tak...tak...tak...tak...tak....
kukatakan tak sebab aku tak terima
melihat kota ini di permainkan oleh orang-orang
yang mungkin derajatnya tak lebih mulia daripada
katak.
karena perbuatannya telah banyak menyengsarakan rakyat
sampai-sampai mematikan kehidupan rakyat
kota itu kini tak layak menjadi kota
semua telah terampas oleh kerakusan
oknum-oknum yang membelantara di pembelantaraan
kotamu sendiri.
Karya : Budianto
Terlihat kota yang bukan kotaku
telah dikotak-katik oleh banyak
otak-otak yang barang kali tak berotak
mencoba mengkotak-katikkan kotamu bukan kotaku
ya.barang kali juga dia yang merasa berotak
telah tahu atau hanya ingin membodoh-bodohi
orang yang malas memakai otaknya untuk membangun kota itu
kota yang hanya terbungkus dalam suatu kotak
tak berkotak menjadi lahan untuk melakukan
perbuatan yang tak berotak
Tak...tak...tak...tak...tak...tak....
kukatakan tak sebab aku tak terima
melihat kota ini di permainkan oleh orang-orang
yang mungkin derajatnya tak lebih mulia daripada
katak.
karena perbuatannya telah banyak menyengsarakan rakyat
sampai-sampai mematikan kehidupan rakyat
kota itu kini tak layak menjadi kota
semua telah terampas oleh kerakusan
oknum-oknum yang membelantara di pembelantaraan
kotamu sendiri.
Puisi Kontemporer Budianto
Ulang Tahun
Kijang – Jangki
Jeritan – Natirej
Kamar – Ramka
Malas – Salam
Ada….Apa….Apa….Ada
Pada…Papa
Papa…Ada
Apa….Pa
Pa……ada
Pa……….
Papa…….
Papa…….
Adapaadapaapa
Pa……………………………
Jeritan Natirej
Pada papa
Papa ada kijang
Sejangki
Papa beli
Merapikan
To.!
Totototo to…to….to!!
Memancing
Le…..lelelelelale
Lelelele
Le.!
Sajak Seorang Bayi
Ncah
Khe,,,khe…
Ppappa
Mmamma
Mmmam
Ai……
He…..he….
Nkah….nkah…nkah…
Mmah,,,nkah….
Laki Luka
Lika-liku laki-laki luka-luka
Laku-laku
Laki luka
laku
TAK
Karya : Budianto
Tak..... kataku dan mereka.
RK, Asing 2011
Kijang – Jangki
Jeritan – Natirej
Kamar – Ramka
Malas – Salam
Ada….Apa….Apa….Ada
Pada…Papa
Papa…Ada
Apa….Pa
Pa……ada
Pa……….
Papa…….
Papa…….
Adapaadapaapa
Pa……………………………
Jeritan Natirej
Pada papa
Papa ada kijang
Sejangki
Papa beli
Merapikan
To.!
Totototo to…to….to!!
Memancing
Le…..lelelelelale
Lelelele
Le.!
Sajak Seorang Bayi
Ncah
Khe,,,khe…
Ppappa
Mmamma
Mmmam
Ai……
He…..he….
Nkah….nkah…nkah…
Mmah,,,nkah….
Laki Luka
Lika-liku laki-laki luka-luka
Laku-laku
Laki luka
laku
TAK
Karya : Budianto
Tak..... kataku dan mereka.
RK, Asing 2011
Senin, 09 Agustus 2010
puisi Pendidikan
Kiprah Seorang Guru
Karya : Budianto
Seribu hari telah di jalani
walau hanya sebagai guru bantu
tak pernah mengukur gaji
karna ini panggilan hati
mendidik anak negeri
agar tak hanyut dalam
kebutaan
Ranah Kompak, Mei 2010
Guruku...Akulah Muridmu
Karya : Budianto
Guruku..
terimakasih atas didikasimu
mengajarkanku membaca
ilmu bangsa dan dunia
yang ku rekam dalam memori otakku
untuk ku putar saat dewasa nanti
agar negeri sedikit terobati
Ranah kompak, Mei 2010
Makna Hardiknas
Karya : Budianto
Bukan hanya kita peringati
dengan rapinya di setiap sekolah
dinas dan pemerintahan
tapi yang terpenting
bagaimanakah kita
menata rapi isi dari
potret pendidikan negeri
Ranah Kompak, Mei 2010
Karya : Budianto
Seribu hari telah di jalani
walau hanya sebagai guru bantu
tak pernah mengukur gaji
karna ini panggilan hati
mendidik anak negeri
agar tak hanyut dalam
kebutaan
Ranah Kompak, Mei 2010
Guruku...Akulah Muridmu
Karya : Budianto
Guruku..
terimakasih atas didikasimu
mengajarkanku membaca
ilmu bangsa dan dunia
yang ku rekam dalam memori otakku
untuk ku putar saat dewasa nanti
agar negeri sedikit terobati
Ranah kompak, Mei 2010
Makna Hardiknas
Karya : Budianto
Bukan hanya kita peringati
dengan rapinya di setiap sekolah
dinas dan pemerintahan
tapi yang terpenting
bagaimanakah kita
menata rapi isi dari
potret pendidikan negeri
Ranah Kompak, Mei 2010
puisi BUDIANTO
Isyarat Langit
Karya : Budianto
ketika cahaya tak mampu menapakkan ultranya
sekeping harap berlari dengan gelisah
mencari kedamaian dalam rayuan misteri
yang masih merongrong dalam getiran awan
kini, simbahkanlah semua dalam tumpuan
menatap bingkai zaman yang terus menua
agar tak ada lagi noda dalam nurani.
Sabda Bumi
Karya : Budianto
sesaat setelah kuberikan kau peringatan
aku melihatmu termenung dalam kesadaran
namun saat aku mencoba diam
kau kembali melanjutkan kesalahan
Rembulan Malam
Karya : Budianto
dalam kesunyian, bertemankan dengan cahaya rembulan malam
aku bercerita tentang kenangan dan gundah yang menyelimuti hati
dan aku bertanya, adakah jiwa sunyi malam ini yang melebihi jiwaku
rembulan terdiam.
Embun Pagi
Karya : Budianto
air sunyi menetes dalam mahkotanya ilalang
memberi bisikan pesan pada ketenangan pagi
kemurniannya masih setia meneteskan mimpi
pada gulma yang tertidur pulas.
Sajak Rindu Buat Mama
Karya : Budianto
Biarlah angin membawa kerinduanku
untukmu, mama
dalam tidurku yang memanjakan mimpi
dalam rinduku yang membingkai sedih
kini terangkum dalam dinding tangisku,
mama
Arloji Kehidupan
Karya : Budiantu
Kemarin telah kau campakkan waktumu
dalam permainan yang tak kau mainkan
kini kau sujudkan pujamu,
agar bisa kembali seperti dulu
tapi arloji tak akan memutarkan haluannya
Karya : Budianto
ketika cahaya tak mampu menapakkan ultranya
sekeping harap berlari dengan gelisah
mencari kedamaian dalam rayuan misteri
yang masih merongrong dalam getiran awan
kini, simbahkanlah semua dalam tumpuan
menatap bingkai zaman yang terus menua
agar tak ada lagi noda dalam nurani.
Sabda Bumi
Karya : Budianto
sesaat setelah kuberikan kau peringatan
aku melihatmu termenung dalam kesadaran
namun saat aku mencoba diam
kau kembali melanjutkan kesalahan
Rembulan Malam
Karya : Budianto
dalam kesunyian, bertemankan dengan cahaya rembulan malam
aku bercerita tentang kenangan dan gundah yang menyelimuti hati
dan aku bertanya, adakah jiwa sunyi malam ini yang melebihi jiwaku
rembulan terdiam.
Embun Pagi
Karya : Budianto
air sunyi menetes dalam mahkotanya ilalang
memberi bisikan pesan pada ketenangan pagi
kemurniannya masih setia meneteskan mimpi
pada gulma yang tertidur pulas.
Sajak Rindu Buat Mama
Karya : Budianto
Biarlah angin membawa kerinduanku
untukmu, mama
dalam tidurku yang memanjakan mimpi
dalam rinduku yang membingkai sedih
kini terangkum dalam dinding tangisku,
mama
Arloji Kehidupan
Karya : Budiantu
Kemarin telah kau campakkan waktumu
dalam permainan yang tak kau mainkan
kini kau sujudkan pujamu,
agar bisa kembali seperti dulu
tapi arloji tak akan memutarkan haluannya
Sabtu, 24 Juli 2010
Langganan:
Postingan (Atom)






