Senin, 26 April 2010




ketika sepasang merpati
tak lagi memberikan terapi sejuk
kini seekor kelinci cantik
hanya dapat berkaca pada lensa buramnya

Minggu, 25 April 2010

Selasa, 06 April 2010

puisi budianto

Laskar Hitam di Balik Kerudung Putih


rupa wajah tak jadi alasan
terpandang sosok dari sudut jendela
bodi yang amboi
dengan lesung pipi menghiasi pagi
bergandengan dengan dua bule
berkekar raga
melintas di rumah berteras dua
menuju hotel berbintang lima
gadis indo turunan dua bangsa
memarakkan jagat raya
menghantui nafsu dunia
menghantam birahi agama

(ranah kompak 16 desember 2009)

Munuju Pintu Tobat

mimpikan sejuta kenangan buruk yang semakin membusuk
agar kita semakin menatap seroja insaf dalam kehidupan
pucuknya akan mekar jika batang selalu tegak
dan akar selalu disiram dengan mutiara tobat
tinggalkan maksiat yang menggangu dunia
memporandakan iman dan takwa
(ranah kompak desember 2009)

Meraih Impian

jalan masih panjang kawan
jangan lengah menatap asa
mimpikan kenangan kita
saat bersama membangun negeri
meraih prestasi penuh tantangan
demi tujuan yang telah pasti
jalan masih panjang kawan
lihatlah burung diatas sana
mereka berhamburan
bercengkrama dengan awan
yang masih memancarkan
sejuta kisah kasih
untuk kita,
mari kawan kita raih
impian
(ranah kompak Desember 2009)
Untumu Habibiku

setangkai bunga mawar
aku persebahkan bersama senyuman
saat dirimu sedang gundah
pandanglah mata ini
katakan kalau kamu tak lagi gundah
biarkan waktu terus berputar
karna itu memang sudah kodrat
peluklah tubuhku karna aku akan
selalu di sampingmu
(Ranak kompak 2009)

puisi malam tahun baru budianto

Malam Tahun Baru /I/

ketika malam mulai senyap
melangkah meninggalkan kenanggan tahun yang silam
suara ratap menyeruak dalam relung nurani
tercucur kesedihan dalam memampang dosa
(Ranah Kompak 2009)

Malam Tahun Baru/II/

gemerlap bunga api mengalahkan sang bintang
yang masih bertatap pada lembayung awan hitam
teriakan manusia kegirangan
tanpa menghirau lautan insaf
(Ranah Kompak 2009)

Malam Tahun Baru /III/

duduk termenung
pandangi rembulan
meratapi dosa
(Ranah Kompak 2009)

puisi sri rizki handayani

Matahari Tanah Airku
Sri Rizki H

Di sudut jalan
Wajah-wajah lusuh menatap
Sayu tak berdaya
Sementara tangan-tangan kuasa
Hanya bisa memanfaatkan kelemahan

Ribuan tangan keserakahan menjalar
mencari mangsa, melilit bumi,
meretas setiap asa
dengan sisa suara kami tetap memanggilmu
berharap kau hadir dan membelai kami
dengan sentuhan lembutmu

Kau tauladan kami
penerang jalan yang kelam
kau pemimpin
takkan pernah terganti


Ranah KOMPAK
17 Juni 2009

Senin, 05 April 2010

Kumpulan puisi Budianto

BUDIANTO

KEIKHLASANKU /I/


Hidup tak lagi berarti
Jika tak menatap
Disamping ada yang menanti

Aku kenyang dengan kesenangan
Mereka lapar dengan pemberian
Haknya terampas
Dari oknum-oknum
Bertopengkan jabatan

Aku harus bisa menjadi wali
Dari orang-orang yang mabuk
Kekayaan


KEIKHLASANKU /II/


Sadar
Kepunyaanku tak sebanding
Dari kepunyaan mereka
Tapi aku ikhlas
Memberikan sebagian
Yang kupunya


SEPIKU MALAM INI

Dalam heningnya malam
Kuberlayar mengarungi kesedihan
Menatap rembulan yang bersinar
Seakan redup tertutup awan

Sembilu hatiku
Saat ingin berlari
Menggapai kebahagiaan
Yang kucari

Malam ini aku hanya
Ingin menikmati
Sunyi ini dengan sendiri
Biarkan saja menjadi saksi


KASIH DI UJUNG SAMUDERA

Andai waktu tak lagi tergapai
biarkan sekucir kicauan rindu
bernyanyi dipangkuan
melayarkan dahaga kenangan
menyelimuti tubuh di tepi samudera
ingin ku berlabuh
bersaing dengan gulungan
ombak bergandengan
demi gadis pujaan
yang terus membayang


TAK SEBENING EMBUN PAGI

Biarlah angin yang bercerita
tentang asmara yang masih membara
walau masih ada kuntuman setia
simpanlah agar tak lagi hanyut
seperti hari kemarin


BINTANG MASIH TEMARAM

Jangan takut untuk mencoba
selagi bintang masih temarang
menjaga kita dan semuanya
yang masih terdiam
disudut kamar kota


RIWAYAT KEHAMPAAN

Telah ku ukir jejak-jejak langkah
yang memburu musafir cahaya
berlabuh di pengembaraan kehidupan
namun tak jua aku dapatkan


SAJAK UNTUKMU

Lewat hiasan rasa
mengingat bayangmu yang telah tiada
tak pernah kembali meski sekejap mata
melepas dahaga rindu
yang semakin menjelma
untaian kata mutiara kupersembahkan
mengiringi langkahmu
ke alam yang berbeda