budianto dan kawan-kawan sedang melaksanakan kegiata kemah menulis bersama keluarga besar komunitas penulis anak kampus, bertempat di daerah sayum sabah sumatera utara
Rabu, 05 Mei 2010
budianto kemah menulis
budianto dan kawan-kawan sedang melaksanakan kegiata kemah menulis bersama keluarga besar komunitas penulis anak kampus, bertempat di daerah sayum sabah sumatera utara
Senin, 26 April 2010
Minggu, 25 April 2010
Selasa, 06 April 2010
puisi budianto
Laskar Hitam di Balik Kerudung Putih
rupa wajah tak jadi alasan
terpandang sosok dari sudut jendela
bodi yang amboi
dengan lesung pipi menghiasi pagi
bergandengan dengan dua bule
berkekar raga
melintas di rumah berteras dua
menuju hotel berbintang lima
gadis indo turunan dua bangsa
memarakkan jagat raya
menghantui nafsu dunia
menghantam birahi agama
(ranah kompak 16 desember 2009)
Munuju Pintu Tobat
mimpikan sejuta kenangan buruk yang semakin membusuk
agar kita semakin menatap seroja insaf dalam kehidupan
pucuknya akan mekar jika batang selalu tegak
dan akar selalu disiram dengan mutiara tobat
tinggalkan maksiat yang menggangu dunia
memporandakan iman dan takwa
(ranah kompak desember 2009)
Meraih Impian
jalan masih panjang kawan
jangan lengah menatap asa
mimpikan kenangan kita
saat bersama membangun negeri
meraih prestasi penuh tantangan
demi tujuan yang telah pasti
jalan masih panjang kawan
lihatlah burung diatas sana
mereka berhamburan
bercengkrama dengan awan
yang masih memancarkan
sejuta kisah kasih
untuk kita,
mari kawan kita raih
impian
(ranah kompak Desember 2009)
Untumu Habibiku
setangkai bunga mawar
aku persebahkan bersama senyuman
saat dirimu sedang gundah
pandanglah mata ini
katakan kalau kamu tak lagi gundah
biarkan waktu terus berputar
karna itu memang sudah kodrat
peluklah tubuhku karna aku akan
selalu di sampingmu
(Ranak kompak 2009)
rupa wajah tak jadi alasan
terpandang sosok dari sudut jendela
bodi yang amboi
dengan lesung pipi menghiasi pagi
bergandengan dengan dua bule
berkekar raga
melintas di rumah berteras dua
menuju hotel berbintang lima
gadis indo turunan dua bangsa
memarakkan jagat raya
menghantui nafsu dunia
menghantam birahi agama
(ranah kompak 16 desember 2009)
Munuju Pintu Tobat
mimpikan sejuta kenangan buruk yang semakin membusuk
agar kita semakin menatap seroja insaf dalam kehidupan
pucuknya akan mekar jika batang selalu tegak
dan akar selalu disiram dengan mutiara tobat
tinggalkan maksiat yang menggangu dunia
memporandakan iman dan takwa
(ranah kompak desember 2009)
Meraih Impian
jalan masih panjang kawan
jangan lengah menatap asa
mimpikan kenangan kita
saat bersama membangun negeri
meraih prestasi penuh tantangan
demi tujuan yang telah pasti
jalan masih panjang kawan
lihatlah burung diatas sana
mereka berhamburan
bercengkrama dengan awan
yang masih memancarkan
sejuta kisah kasih
untuk kita,
mari kawan kita raih
impian
(ranah kompak Desember 2009)
Untumu Habibiku
setangkai bunga mawar
aku persebahkan bersama senyuman
saat dirimu sedang gundah
pandanglah mata ini
katakan kalau kamu tak lagi gundah
biarkan waktu terus berputar
karna itu memang sudah kodrat
peluklah tubuhku karna aku akan
selalu di sampingmu
(Ranak kompak 2009)
puisi malam tahun baru budianto
Malam Tahun Baru /I/
ketika malam mulai senyap
melangkah meninggalkan kenanggan tahun yang silam
suara ratap menyeruak dalam relung nurani
tercucur kesedihan dalam memampang dosa
(Ranah Kompak 2009)
Malam Tahun Baru/II/
gemerlap bunga api mengalahkan sang bintang
yang masih bertatap pada lembayung awan hitam
teriakan manusia kegirangan
tanpa menghirau lautan insaf
(Ranah Kompak 2009)
Malam Tahun Baru /III/
duduk termenung
pandangi rembulan
meratapi dosa
(Ranah Kompak 2009)
ketika malam mulai senyap
melangkah meninggalkan kenanggan tahun yang silam
suara ratap menyeruak dalam relung nurani
tercucur kesedihan dalam memampang dosa
(Ranah Kompak 2009)
Malam Tahun Baru/II/
gemerlap bunga api mengalahkan sang bintang
yang masih bertatap pada lembayung awan hitam
teriakan manusia kegirangan
tanpa menghirau lautan insaf
(Ranah Kompak 2009)
Malam Tahun Baru /III/
duduk termenung
pandangi rembulan
meratapi dosa
(Ranah Kompak 2009)
puisi sri rizki handayani
Matahari Tanah Airku
Sri Rizki H
Di sudut jalan
Wajah-wajah lusuh menatap
Sayu tak berdaya
Sementara tangan-tangan kuasa
Hanya bisa memanfaatkan kelemahan
Ribuan tangan keserakahan menjalar
mencari mangsa, melilit bumi,
meretas setiap asa
dengan sisa suara kami tetap memanggilmu
berharap kau hadir dan membelai kami
dengan sentuhan lembutmu
Kau tauladan kami
penerang jalan yang kelam
kau pemimpin
takkan pernah terganti
Ranah KOMPAK
17 Juni 2009
Sri Rizki H
Di sudut jalan
Wajah-wajah lusuh menatap
Sayu tak berdaya
Sementara tangan-tangan kuasa
Hanya bisa memanfaatkan kelemahan
Ribuan tangan keserakahan menjalar
mencari mangsa, melilit bumi,
meretas setiap asa
dengan sisa suara kami tetap memanggilmu
berharap kau hadir dan membelai kami
dengan sentuhan lembutmu
Kau tauladan kami
penerang jalan yang kelam
kau pemimpin
takkan pernah terganti
Ranah KOMPAK
17 Juni 2009
Langganan:
Postingan (Atom)